Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh...
1. BCS (Biopharmaceutical
Classification System)
Jadi, dapat di
simpulkan bahwa BCS adalah suatu sistem untuk membedakan suatu obat berdasarkan
tingkat kelarutan dan permeabilitasnya.
Adapun makna
dari BCS adalah bagaimana mengetahui rate limiting step, yaitu tahapan penentu
cepatnya tercapai bioavabilitas obat-obat dengan rute pemberian secara oral.
Kelarutan adalah
kemampuan suatu senyawa untuk terlarut dalam cairan fisiologis baik yang pada
saluran pencernaan ada cairan dalam lambung yang bersifat asam kuat, dan ada
cairan di usus yang bersifat basa lemah.
Sedangkan
permeabilitas adalah kemampuan suatu zat untuk menembus membran sel.
Dari bagan di
atas, pada kelas satu kelarutan dan permeabilitasnya tinggi, sehingga merupakan
kelas yang paling baik untuk bisa membuat obat terabsorbsi dan menuju target
organ dengan baik. Sedangkan pada kelas II, III, dan IV, baik kelarutan maupun
permeabilitas masih dengan salah satu bagian yang rendah sehingga adalah tugas
seorang pharmacist untuk memodifikasi suatu sediaan oral agar dapat di
tingkatkan bioavailabilitasnya. Dimana faktor yang mempengaruhi tercapainya
bioavabilitas yang baik adalah kelarutan dan permeabilitas suatu obat/senyawa.
Pada kelas II,
dimana kelarutannya rendah sedangkan permeabilitasnya tinggi, masalah yang
timbul adalah sulitnya suatu obat/senyawa larut dalam cairan lambung ataupun
usus, sehingga salah satu hal yang menyebabkan efek dari suatu obat menjadi
berkurang. Untuk memulihkannya, dapat di modifikasi dengan menaikkan/meningkatkan
kelarutannya. Mengecilkan ukuran partikelnya. Disalut dengan senyawa ampifilik,
contoh surfaktan.
Pada kelas III,
dimana kelarutannya yang tinggi sedangkan permeabilitasnya rendah. Oleh karena
itu, keadaan seperti ini sangat perlu untuk di modifikasi, salah satunya yaitu
dengan mengionkannya. Karena bagaimanapun, obat-obat/senyawa yang dapat
terionisasi sempurna tidak dapat menembus bagian lemak pada membran. Sehingga,
obat-obat di buat tidak mampu terionisasi sempurna di cairan usus atau lambung,
agar dapat ditingkatkan permeabilitasnya.
Pada kelas IV,
dimana kelarutannya dan juga permeabilitasnya yang rendah Adalah hal yang fatal
yang harus segera di modifikasi agar senyawa yang seharusnya terabsorbsi di
membran target dapat di pertahankan lebih lama, sehingga lambat laun akan dapat
terabsorbsi. Salah satunya yaitu menambahkan senyawa yang lebih asam untuk
senyawa yang tidak mampu terabsorbsi sempurna pada cairan lambung, dan senyawa
yang lebih basa pada daerah usus. . Disalut dengan senyawa ampifilik, contoh
surfaktan, karena surfaktan sifatnya sama dengan membran lipid.
2.
Niosome
Niosom adalah
sistem vesikel yang dapat digunakan sebagai pembawa obat lipofilik, hidrofilik
dan ampifilik (Isriany Ismail, dkk. 2011 : 85). Adapun
penyusunnya yaitu Surfaktan
non-ionik (sorbitan ester (span)) dan Kolesterol yang berfungsi sebagai bahan penstabil.
Adapun obat-obat yang bisa
digunakan dalam pembuatan niosome ini, yaitu:
a.
Relaksan otot
b.
Anti bakteri
c.
Protein-protein
d.
Anti jamur
e.
NSAID
f.
Vitamin-vitamin
g.
Anti diabetik
h.
Hormon-hormon
i.
Anti neoplastik
j.
Anti glaukoma
k.
Anti tuberculosis
Sediaan transdermal adalah sediaan
yang penghantarannya melalui kulit. Dimana sebagai tempat absorbsi yang
terluas, kulit memiliki keuntungan
dibandingkan jalur lainnya. Di antaranya adalah:
Ø menghindari efek lintas pertama hepar, memberikan
penghantaran obat secara berkelanjutan,
Ø memiliki efek samping yang lebih rendah, dan
Ø memperbaiki kepatuhan pasien (Trotta et al, 2005).
Ø Penggunaan secara topikal juga telah menghasilkan
kadar yang lebih tinggi dalam jaringan adiposa dan otot rangka yang berdekatan
(Brunner et al, 2005).
Pembuatan Niosom
a.
Sejumlah serbuk
proniosom yang telah ditimbang seksama dimasukkan ke dalam tabung reaksi
b.
ditambahkan
sejumlah volume aquadest bebas ion yang bersuhu ± 80 C.
lalu ditutup rapat
c.
campuran
itu divortex selama ± 30 detik
(diulang 4x)
d.
Suspensi niosom dibuat dengan
konsentrasi total sufaktan konstan yaitu 10 mmol/l untuk tiap formula
3.
Liposom
Liposom adalah visikel sederhana dimana suatu volume cairan seluruhnya
di selubungi oleh membran yang tersusun atas molekul lipid (biasanya fosfolipid ).
Bahan
yang digunakan sebagai penyusun liposom, yaitu fosfolipid, lipopretein,
merupakan bahan alami sehingga biokopetibel didalam tubuh. Lipid penyusun
liposom dapat berupa fosfolipid dan
lipid golongan sterol seperti kolesterol. Pengaruh kolesterol terhadap stabilitas liposom adalah untuk pengepakan
barisan molekul fosfolipid pada lipid lapis ganda liposom. Jadi molekul protein
tidak mudah berpenetrasi ke permukaan liposom.
Secara
umum, pembuatan liposom dilakukan dengan melarutkan lipid dengan pelarut yang
sesuai, yaitu pelarut organik yang mudah menguap, diikuti dengan penghilangan
pelarut, hidrasi lipid dan reduksi ukuran partikel. Pelarut dihilangkan dengan
menggunakan rotavapor yang kemudian akan membentuk lapisan tipis. Proses
hidrasi lipid dilakukan dengan mencampurkan fase air ke lapisan tipis tersebut
dengan menggunakan suhu di atas fase transisi dari fosfolipid dimana terjadi
perubahan dari fase gel ke fase cairan. Reduksi ukuran partikel dapat dilakukan
dengan sonikasi, ekstruksi, homogenisasi.
4.
Ethosom
Etosom
yaitu pembawa jenis vesikel halus dan lunak yang tersusun atas fosfolipid,
alkohol konsentrasi yang tinggi, dan air. Komposisi yang tepat dapat
menghantarkan zat aktif hidrofilik dalam konsentrasi tinggi secara transport
pasif ke dalam lapisan kulit hingga mencapai sirkulasi sis-temik.
Pembuatan ethosom:
a.
Metode dingin
Disini
adalah metode fosfolipid, obat dan bahan lipid lainnya dilarutkan dalam etanol
dalam bejana tertutup pada suhu kamar dengan pengadukan yang kuat dengan
penggunaan mixer. Propilen glikol atau poliol lain ditambahkan selama
pengadukan. Campuran ini dipanaskan sampai 300 c. Air dipanaskan sampai 300 C
dalam wadah terpisah ditambahkan kecampuran, yang kemudian diaduk selama 5
menit dalam wadah tertutup. Ukuran vesikel formulasi ethosomal bias dikurangi
keinginan memperpanjang menggunakan sonikasi atau Metode ekstrusi Kemudian,
formulasi disimpan dalam lemari pendingin.
b.
Metode panas
Dalam
metode ini fosfolipid tersebar dalam air dengan pemanasan dalam water bath di 400 C
sampai solusi koloid diperoleh. Dalam wadah etanol terpisah dan propilenglikol
dicampur dan dipanaskan sampai 400 C. Setelah kedua campuran mencapai 400 C,
fase organic ditambahkan ke yang berair. Obat ini dilarutkan dalam air atau
etanol tergantug pada hidrofilik /Sifat hidrofobik.
Ukuran gelembung dari ethosomal formulasi dapat dikurangi sejauh keinginan
menggunakan metode sonikasi atau metode ekstrusi.
5.
Transferosom
Transferosom merupakan vesikel yang terdiri
dari fosfolipid sebagai bahan utama dan surfaktan 10-25% serta 3-10% etanol.
Kelebihan Transferosom
Adapun
kelebihan dari transferosom (Kumar, dkk., 2011:198-199 dan Kulkarni dkk, 2011 : 738) :
a.
Transferosom
memiliki infrastruktur yang sama-sama terdiri dari gugus hidrofobik dan
hidrofilik dan sebagai hasilnya dapat mengakomodasi molekul obat dengan
berbagai kelarutan.
b.
Transferosom
dapat merusak dan melewati penyempitan (dari 5 sampai 10 kali lebih sedikit
dari diameter mereka sendiri) tanpa kehilangan ukuran.
c.
Digunakan
untuk pengiriman sistemik serta obat topikal.
d.
Mereka
dapat bertindak sebagai pembawa obat yang memiliki berat molekul yang rendah
serta tinggi mis analgesik, anestetik, kortikosteroid, hormon, antikanker,
insulin, protein gapjunction, dan albumin.
Metode Pembuatan
Transferosom
Metode
penyusunan transferosom terdiri dari dua langkah. Pertama, pembuatan film tipis
dengan hidrasi dan diubah ke ukuran yang diinginkan dengan metode sonikasi. Kedua, vesikel yang
telah disonikasi dihomogenkan dengan cara diekstrusi melalui membran
polikarbonat. Campuran bahan vesikel yang terbentuk yaitu fosfolipid dan
surfaktan dilarutkan dalam pelarut organik, pelarut organik diuapkan di atas
suhu kamar. Kemudian dimurnikan pada suhu 50°C dengan dengan menggunakan Rotary
Evaporator. Sisa pelarut dihilangkan di bawah vakum. Film-film lipid yang
tertinggal dihidrasi dengan pencampuran buffer (pH 6,5) dan dirotasi selama 60
menit, dengan temperatur 1 rpm pada suhu yang telah disesuaikan. Setelah itu
vesikel didiamkan selama 2 jam pada suhu kamar (Fry et al., 1978:
809-815)
6. Patch
Patch adalah salah satu cara penghantaran
obat yang ditempel/direkatkan pada kulit untuk memberi dosis tertentu obat
melalui kulit dan masuk ke aliran darah.
Adapun
keuntungannya, yaitu:
- Mudah digunakan
- Merupakan metode yang tepat untuk obat yang dapat
rusak akibat asam lambung, tidak diabsorbsi baik pada usus dan rusak oleh hati
- Meminimalkan efek samping dibandingkan obat
secara per-oral
- Dapat mengefektifkan biaya
- Obat tidak melalui “first pass metabolism”
- Efek terapiutik dapat diprediksi maupun
diperpanjang
Komponen
penyusunnya, yaitu:
a.
Obat
b.
Matrix
Polimer
c.
Penambah
permeasi
Terdiri
dari:
a)
Solvent
Alkohol air-metanol dan etanol,
alkil metil sulfoksida, imetil sulfoksida, homolog alkil, dll.
b)
Surfaktan
Surfaktan anionik,
seperti: Dioctyl sulfosuksinat, SLS
Nonionik Surfaktan,
seperti: Pluronic F127, Pluronic F68, dll.
d.
Perekat
(adhesive)
e. Backing layer
1.
Bersifat fleksibel
2.
Mencegah zat aktif meninggalkan tempat melekatnya
3.
Bersifat impermeabel dan melindungi sediaan ketika digunakan
Contoh:
Metallic plastic laminate,
plastic backing with absorbent pad and occlusive base plate (aluminium foil),
adhesive foam pad (flexible polyurethane) with occlusive base plate (aluminium
foil disc) etc.
Adapun Tipe dari
Transdermal drug delivery sistem:
•
Single layer drug in adhesive
•
Multi-layer drug
•
Reservoir system
•
Matrix system
7.
Gastroretentive
Gastroretentive adalah
Bentuk sediaan yang bertahan di lambung. Sistem ini dapat meningkatkan
penghantaran obat dilambung secara terus menerus dalam periode waktu yang lama
sehingga diharapkan dapat meningkatkan bioavailabilitasnya (Cremer, 1997). Salah
satu kelemahan dalam pengobatan secara oral adalah cepatnya obat-obat,
khususnya yang digunakan untuk mengobati lambung- melintasi lambung, sehingga
biovailabilitasnya berkurang. Sediaan tablet gastroretensive ini, menambah
waktu bagi obat untuk bertahan dilambung, sehingga biovabilitas obat menjadi
maksimal. Sediaan ini bisa di seut juga sebagai sediaan sustained release.
Ada
beberapa bentuk dari sediaan gastroretentive ini, yaitu
a.
Floating system
Sistem penghantaran dengan
mengontrol densitas (pengapungan) biasanya di sebut sebagai floating system.
Dimana obat di buat dengan densitas yang lebih rendah dari cairan lambung, sehingga
obat akan mengapung di cairan lambung lalu melepaskan zat aktif obat secara
perlahan tanpa mempengaruhi tingkat pengosongan lambung dalam jangka waktu yang
lama. Sistem ini di bagi menjadi 2, yaitu:
1)
Effervescent
Mekanisme utama yang terlibat dalam
sistem ini adalah produksi gas karbon dioksida akibat reaksi antara natrium
bikarbonat, asam sitrat & asam tartrat. Hasil gas yang dihasilkan dalam
pengurangan sistem densitas sehingga membuatnya mengapung di cairan lambung.
2)
Non-Effervescent
Adalah salah satu jenis dari floating gastroretentive
drug delivery systems yang
terdiri dari bahan pembentuk gel. hydrocolloids, polysaccharides and
polimer-polimer pembentuk matrix seperti polycarbonate, polystyrene, polymethacrylate, dll.
b. Bioadhesive
sistem biasa juga di sebut sebagai mukoadhesive sistem, dimana suatu polimer
yang di tambahkan pada lapisan tablet untuk berinteraksi dengan lapisan mukosa
sehingga polimer tersebut akan melekat pada permukaan epitel, menyebabkan obat
menjadi lebih lama di lambung dan secara otomatis dapat meningkatkan absorbsi
dari obat, begitu juga biovabilitasnya sebab tidak adanya first pass
metabolisme.
c. Swallable/
expandable system
Sistem
ini adalah sistem penghantaran
yang dapat meningkatkan ukuran obat sehingga tertahan karena tidak dapat
melewati pylorus (modified shape systems)
, yakni bentuk sediaan yang membengkak di lambung,
sehingga tidak dapat melewati pilorusdan mencegah obat untuk keluar dari
lambung dalam jangka waktu yang lama.
d. Sedimentasi
(high density sistem) , yakni obat di buat dengan densitas yang lebih tinggi
dari cairan lambung, sehingga obat akan mengendap di bawah dalam jangka waktu
yang lama. Biasanya diformulasi dengan bahan-bahan yang sesuai (inert) seperti,
zink oksida, titanium dioksida, bubuk besi.
Iron Chef - Titanium Price Chart - iTanium Arts
BalasHapusIron Chef is titanium granite the first Chinese cooking harbor freight titanium welder restaurant in the US with an impressive portfolio of microtouch trimmer food, beverages titanium wood stove and titanium water bottle entertainment experiences. The